KOTA PEKALONGAN – Setelah memberikan keterangan mengenai rangkaian kegiatan, dan acara yang akan disajikan dalam peringatan Hari Jadi Kota Pekalongan ke 112, Walikota Pekalongan, Moch Saelany Machfudz, tiba-tiba bangkit. Menerima selembar sarung batik dari petugas protokol, Saelany langsung mencoba sarung tersebut dihadapan para wartawan.

 

Kemudian, tanpa ragu Walikota memamerkan bagaimana sarung batik yang dinilainya pas, dan cocok digunakan untuk kegiatan resmi. Juga bagi para ASN di lingkungan Pemkot Pekalongan, sarung batik dinilai pantas, layak dan nyaman digunakan oleh ASN dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

 

Ini enak kok digunakan, dan tidak menghambat ASN untuk tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tuturnya dalam konferensi pers, rabu (21/3) Di Ruang Kresna, Setda Pekalongan. Bahkan Walikota juga siap menerbitkan Perwal untuk mengatur tentang penggunaan sarung batik setiap Jumat bagi para ASN di lingkungan Pemkot Pekalongan. “Perwal cukup mungkin. Nanti akan kami terbitkan Perwal untuk mengatur itu. Kami juga menganjurkan masyarakat agar menggunakan sarung batik setiap Jumat,” Tambahnya.

 

Peringatan Hari Jadi Kota Pekalongan ke 112, 1 April 2018, memang akan digunakan sebagai momentum untuk membangkitkan kembali sarung batik sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Kota Pekalongan. Secara khusus, akan dilakukan launching penggunaan sarung batik dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Bahkan, juga disiapkan festival sarung batik yang akan disisipkan dalam puncak peringatan Hari Jadi kota Pekalongan.

 

Walikota mengatakan, peringatan hari jadi tahun ini secara spesifik akan digunakan untuk melaunching sarung batik, sebagai salah satu busana identitas Kota Pekalongan. Selain dalam kegiatan peringatan puncak hari jadi, Walikota juga akan menerapkan aturan penggunaan sarung batik di lingkungan Pemkot Pekalongan setiap Jumat. “Dalam peringatan hari jadi, baik peserta, tamu undangan maupun yang menonton, akan kami anjurkan untuk menggunakan sarung batik. Momen hari jadi sekaligus akan menjadi launching penggunaan sarung batik di Kota Pekalongan,” jelas Saelany didampingi Sekda Kota Pekalongan, Sri Ruminingsih dan sejumlah pimpinan OPD. Dalam kirab hari jadi, lanjut Walikota, akan disisipkan festival sarung batik dimana seluruh peserta kirab mulai dari pejabat, perusahaan swasta hingga peserta dari masyarakat akan diwajibkan menggunakan sarung batik. Pihaknya, juga menggandeng 15 perusahaan sarung batik di Kota Pekalongan untuk turut menampilkan produknya dalam kegiatan tersebut.

 

Sebagai Kota Kreatif Dunia, sambung Walikota, Kota Pekalongan memang harus terus berinovasi dalam mengembangkan dan menjaga batik sebagai warisan budaya tak benda. Sudah beberapa inovasi dilakukan Pemkot diantaranya dengan menyisipkan motif batik dalam seragam putih yang digunakan di Pemkot Pekalongan. Selanjutnya, sarung batik akan menjadi upaya selanjutnya agar predikat Kota Kreatif tetap terjaga, sekaligus membangkitkan kembali salah satu busana yang menjadi identitas Kota Pekalongan.

 

Milik Masyarakat

 

Selanjutnya, Walikota juga menegaskan bahwa peringatan hari jadi kali ini akan digunakan sebagai peringatan hari jadi bersama oleh seluruh masyarakat. “Jadi ini bukan hanya milik Pemkot Pekalongan saja, tapi milik semua masyarakat Kota Pekalongan,” katanya.

 

Ada berbagai agenda yang sudah disiapkan baik oleh Pemkot Pekalongan maupun oleh masing-masing OPD. Secara khusus, Pemkot juga telah memberikan alokasi anggaran khusus ke setiap kecamatan agar dapat mengajak masyarakat turut serta menginformasikan, mensosialisasikan dan memeriahkan peringatan hari jadi.

 

Kami sudah berikan anggaran Rp 20 juta di kecamatan. Tujuannya agar kecamatan ikut bergerak memberikan informasi, sosialisasi dan ikut memeriahkan peringatan hari jadi ini bersama masyarakat di wilayah masing-masing. Dulu banyak kegiatan yang dilaksanakan hanya di tingkat kota saja. Sekarang harus sampai hingga ke kecamatan,” tandasnya. (nul)

 

 

 

(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 22-03-2018)