Pendapatan antara Lulusan SMK dan SMA
SALAH satu program pemerintah adalah wajib belajar 12 tahun, yaitu penduduk minimal berijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). SLTA. Ini berarti para penduduk usia sekolah yang telah menamatkan jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) harus melanjutkan pendidikan ke SLTA.
Jenjang pendidikan tingkat SLTA ini, orang tua dan juga para siswa dihadapkan pada dua pilihan yakni Sekolah Umum (SMA) atau Sekolah Kejuruan (SMK). Banyak orang tua dan siswa tidak mempunyai bekal informasi yang memadai tentang jenjang pendidikan SLTA. Ini cukup serius karena kesalahan mengambil keputusan dalam melanjutkan di SLTA akan berpengaruh terhadap masa depan anaknya.
Banyak ulasan yang membahas perbandingan antara SMA dan SMK, namun hanya sebatas perbandingan deskriptif tanpa data yang kongkret. Tulisan ini akan memberikan data yang kongkret tentang gambaran perbandingan antara SMA dan SMK di Kota Pekalongan dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2011 dan 2015.
Perbandingan dilihat dari tiga alat ukur yakni peluang memperoleh pekerjaan, tingkat pengembalian (Rate of Return/RoR), dan trend dari pendapatan (Experience-earning Profiles). Rate of return/RoR dalam kasus ini adalah penghasilan dari pekerjaan yang didapat oleh seseorang yang telah menamatkan SLTA. Sedangkang trend dari pendapatan adalah penambahan atau peningkatan dari pendapatan seiring dengan bertambahnya pengalaman yang didapat.
Dari data Susenas tahun 2011 dan 2015, dengan menggunakan Heckman Correction Model, didapat bahwa peluang untuk memperoleh pekerjaan, pada tahun 2011 lulusan SMK lebih berpeluang sebesar 12,73% dibanding lulusan SMA dan peluang ini bertambah besar pada tahun 2015 yakni 29,95%. ini berarti bahwa di Kota Pekalongan, lulusan SMK lebih mudah atau lebih berpeluang untuk mendapatkan pekerjaan dibanding lulusan SMA.
Hal ini wajar karena lulusan SMK dididik langsung mempraktekkan, sehingga lebih siap untuk bekerja dibandingkan dengan lulusan SMA. Dalam hal tingkat pengembalian, dahulu tahun 2011 tingkat pengembalian SMK lebih besar dari SMA (0,34 berbanding 0,32) namun empat tahun berselang keadaan berbalik, yaitu tahun 2015 tingkat pengembalian SMA lebih tinggi dibanding SMK (0,41 berbanding 0,25).
Untuk tren pendapatan, data tahun 2011 menunjukkan bahwa pada awal bekerja (nol pengalaman), pendapatan lulusan SMK lebih tinggi daripada lulusan SMA (0,23 berbanding 0,20), namun seiring dengan bertambahnya pengalaman, lulusan SMA mempunyai pendapatan yang lebih besar dibanding lulusan SMK. Hal ini berarti tren pendapatan lulusan SMA lebih nyata peningkatannya dibanding tren pendapatan dari lulusan SMK dengan kemiringan 0,006 dibanding 0,005.
Identik dengan tingkat pengembalian, tren pendapatan pun berbalik setelah empat tahun berselang. Pada Tahun 2015, dengan nol pengalaman, pendapatan lulusan SMA lebih tinggi dibanding pendapatan lulusan SMK (0,25 berbanding 0,08) dengan tren pendapatan yang lebih nyata bagi lulusan SMA (0,008 dibanding 0,007).
Pembaca mungkin akan bertanya-tanya, mengapa terjadi hal yang berbalik dari keadaan semula. Penulis mencoba untuk membuat analisis sederhana mengapa hal tersebut bisa terjadi. Seorang lulusan SMK dengan keahlian tertentu langsung mendapatkan pekerjaan. Biasanya pekerjaan yang bersifat teknis mekanis, apakah operator mesin, bekerja di bengkel atau hal lain yang bersifat keahlian tertentu.
Bila siswa SMK tidak belajar lagi keterampilan lain, maka keahlian dia hanya terpaku pada pekerjaan tertentu saja. Dan sampai kapan pun, pekerjaan tersebut saja yang akan digeluti. Sementara, keahlian lain seperti manajemen, human relation, marketing, negosiasi, lulusan SMK sama sekali tidak pernah mempelajari hal itu.
Berbeda dengan lulusan SMA yang banyak belajar hal-hal lain yang bersifat human relation. Ketika masuk bekerja, bisa jadi pendapatannya lebih kecil dari lulusan SMK, namun karena belajar terus hal-hal yang bersifat human relation, manajemen, komunikasi dan keterampilan non teknis lainnya, sehingga lulusan SMK memiliki peluang pindah ke middle management jauh lebih tinggi ketimbang lulusan SMK. Semoga bermanfaat. (*)
(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 25-08-2016)
PRINT +
DOWNLOAD PDF