Melihat Kemeriahan Tradisi Syawalan di Kota Pekalongan
Tak Hanya Diterbangkan, Balon Syawalan pun Disawer
TAK hanya ukurannya yang cukup besar dengan tinggi hingga belasan meter, balon-balon itu juga banyak yang dipasangi rentengan petasan. Maka tak mengherankan, Langit Kota Pekalongan sejak pukul 05.30 kemarin, dipenuhi ratusan balon udara berbagai ukuran diiringi dengan rentetan suara letusan petasan yang silih berganti.
Meskipun sudah ada imbauan dari pemerintah dan pejabat berwenang lainnya agar masyarakat tidak menerbangkan balon udara, karena dikhawatirkan bisa mengganggu penerbangan. Petasan yang dipasang pada balon-balon itu juga membahayakan orang yang membuat maupun orang lain, serta bisa menyebabkan kebakaran.
Namun hal itu tampaknya tidak menyurutkan niat warga kota batik untuk kembali menerbangkan balon-balon terbuat dari plastik dan kertas tersebut. Demikian pula yang dilakukan para remaja dan pemuda RW 08 Sapuro, Kelurahan Sapuro Kebulen, Pekalongan Barat. Mereka sejak pukul 06.00 menerbangkan balon udara berbagai ukuran di sebuah tanah lapang di dekat kompleks Makam Sapuro.
Ada beberapa balon ukuran tinggi sekitar 5 meter yang terbuat dari plastik. Ada pula empat balon dari kertas minyak berwarna-warni dengan motif geometris dengan ukuran tinggi hingga 12 meter. Panitia pelepasan balon setempat, Bachtiar Mukorobin (26), menjelaskan bahwa Syawalan akan terasa kurang greget bila tidak dimeriahkan dengan menerbangkan balon-balon udara. “Ini sudah menjadi tradisi sejak lama, sudah tiap tahun kita membuat dan menerbangkan balon,†katanya.
Proses pembuatan balon-balon berukuran besar dengan bahan kertas minyak berwarna-warni itu memakan waktu paling lama tiga hari. Dikerjakan oleh 10 orang. Untuk empat balon besar menghabiskan sekitar 20 kodi (200 lembar) kertas ukuran 100×50 cm.
“Biaya pembuatan satu balon besar ini sekitar Rp200 ribu. Dananya dari ‘urunan’ para warga,†ungkapnya. Mereka tak mengalami kesulitan dalam membuat, dan mendesain balon-balon tersebut. “Karena sudah tiap tahun kami bikin yang seperti ini. Semuanya sudah paham membuatnya,†katanya. Lembaran-lembaran kertas itu direkatkan satu sama lain menggunakan lem kayu. Warna satu kertas dengan kertas yang lain dibuat bervariasi, membuat semacam pola geometris tertentu.
Pada bagian bawah balon itu, dibuat lubang menggunakan kerangka kawat dengan diameter lubang sekitar 20-30 cm. Fungsi lubang itu adalah untuk pengisian gas ke dalam balon. Lubang di bagian bawah balon itu selanjutnya dimasukkan ke cerobong setinggi sekitar 80 cm. Di bawah cerobong itu, telah dibuat semacam tungku yang berbahan bakar campuran oli, minyak tanah dan spirtus.
Kesulitan justru muncul saat balon-balon itu akan diterbangkan. Angin tidak boleh terlalu kencang. Kalau angin kencang, balon itu bisa ambruk sebelum berhasil terbang. Kertasnya pun bisa sobek dan berlubang. Begitupun jika tidak ada embusan angin sama sekali. Balonnya akan susah mengangkasa.
Jika lancar, proses pengisian asap atau gas ke dalam balon berjalan sekitar 10-15 menit, sampai balon itu siap untuk dilepas. Pada proses ini, dibutuhkan kerja sama luar biasa dari para pemuda. Ada yang mengisi asap ke balon, ada pula yang menyangga sisi-sisi balon supaya tidak roboh kena terpaan angin.
DISAWER
Uniknya, beberapa balon besar yang mereka terbangkan itu ada yang ‘disawer’ dengan puluhan lembar uang kertas pecahan Rp2.000, Rp5.00, serta Rp10.000. Hal ini semakin menambah semarak penerbangan balon-balon tersebut.
“Uang kertas ini sengaja kita tempelkan, untuk menambah meriah. Rezeki bagi yang menemukan balon-balon ini nantinya. Satu balon kita tempeli uang kertas, ada yang totalnya sampai Rp100 ribu, uangnya dari saweran warga secara sukarela,†imbuhnya. (*)
(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 14-07-2016)
PRINT +
DOWNLOAD PDF