Kapal Paralon Diuji Coba Terabas Ombak Besar

PEKALONGAN – Kapal paralon pertama buatan warga Kota Pekalongan dijajal untuk menerabas ombak besar, hasilnya mengejutkan kapa bergeming alias adem ayem saja. Bahkan penumpang pun tidak bergoyang. Hal itu terjadi saat dilakukan uji coba kapal paralon karya PT Barokah Marine leh Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sabtu (30/7).

 

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Agus Suherman, mengaku kaget dan salut dan mengapresiasi pembuatan kepal yang terbuat dari pipa pralon itu. Karena kenyataanya saat dijajal selama dua jam lebih hasilnya membanggakan. Ombak besar tidak mampu menggoyangkan para penumpang ini terjadi lantaran bentuk dasar kapal yang datar. Kondisi itu sangat cocok dengan prairan Indonesia, karena kestabilan kapal terjaga. Untuk itu, pihaknya mendorong agar kapal tersebut bisa diproduksi massal, tentunya setelah berbagai persyaratan terkait diurus. Seperti kapal yang di produksi massal harus skil up serta peningkatan skala usaha, sehingga nantinya bisa diproduksi. “Bahkan melihat kondisi yang ada, kapal yang semula disiapkan hanya menangkap ikan ini, bisa dimodifikasi menjadi kapal wisata yang akan bagus,” katanya.

 

Sementara Direktur Utama PT Barokah Marine. Agus Triharsito, menuturkan, kapal paralon akan kembali diuji coba untuk menentukan alat tangkap ikan yang sesuai, Senin mendatang (1/8). Mengingat beda kapal dipastikan beda alat tangkap yang digunakan. Meski begitu dipastikan, kapal paralon pertama di Indonesia itu akan menggunakan alat tangkap sesuai rekomendasi dari Balai Besar Perikanan Indonesia (BBPI) Semarang. “uji coba terakhir itu akan menentukan enis alat tangkap ikan yang pasa dengan kondisi kapal,” katanya.

 

Ditambahkan ada tiga jenis alat tangkap yang kemungkinan antinya akan diujicobakan yakni, jenis gilinet (jaring insang-red(, bubu dan alat pancing. Dari ketiga itu, nantinya dipilih yang pas dan potensi untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan melimpah yang akan dipergunakan. “Jadi tunggu saja nanti,” katanya.

 

Walaupun begitu, Agus menuturkan, sejak Menteri Susi melarang kapal asing eksploitasi di Indonesia sangat luar biasa. Dengan beitu sebenarnya menggunakan alat tangkap apapun sangat mudah mendapatkan ikan di tengah laut tersebut.

 

Seperti diberitakan untuk membuat kapal paralon di butuhkan waktu sekitar 2,5 bulan dengan bahan baku 80 persen dalam negeri. Jumlah paralon yang digunakan sebanyak sekitar 38 buah yang berukuran 14 dan 12 inci. Tahap awal akan menggunakan tangkapan ikan maksimal 3,5 ton.

 

Kapal paralon memiliki banyak keunggulan dibandingkan kapal kayu konvensional. Kapal yang diklaim pertama di Indonesia itu unggul bahan baku ramah lingkungan, karena hanya 10 persennya yang berbahan kayu. Selain bahan bakunya mudah diperoleh, karena produksi paralon buatan dalam negeri. Harganya lebih murah sekitar 30 persen dibandingkan kapal yang terbuat dari kayu dan baja. Perbekalan kapal yang dibutuhkan hanya sekitar Rp 10 juta atau bahan bakar 500 liter sekali melaut.

 

Sedangkan kapal lainnya bertipikal serupa, perbekalannya Rp 20 juta dan bahan bakar 1 ton. Sehingga kapal ini sebagai alternatif bagi nelayan kecil. Sebab kapal lebih murah dan irit baik dalam bahan bakar maupun perbekalan. Selain itu kapala ralon diklaim memiliki ketahanan hingga sekitar 50 tahun. Sementara kapal baja hanya mampu bertahan hingga sekitar 25 tahun. K28-sn

 

 

 

(SUMBER : WAWASAN, 01-08-2016)