Dishub akan Uji Coba Sensor Palang Pintu
Kerjasama dengan BPPT
Pemkot Pekalongan kembali menjadi mitra Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) RI dalam penerapan teknologi terbaru. Kali ini, Pemkot melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menjadi lokasi uji coba teknologi sensor palang pintu otomatis. Kota Pekalonganmenjadi daerah pertama yang bakal mencicipi teknologi yang rencananya, akan diterapkan pertengahan November mendatang. Perlintasan sebidang wilayah Dekoro, dipilih menjadi lokasi uji coba sensor palang pintu.
Kepala Dishub, Slamet Prihantono menjelaskan, sensor palang pintu merupakan teknologi yang dapat mengendalikan palang pintu menutup dan membuka secara otomatis. “Disini menjadi lokasi pertama untuk uji coba. Kami pilih satu titik di Dekoro, karena disana sudah jauh dari stasiun. Sehingga kecepatan kereta sudah stabil,” jelasnya.
Rencana penerapan uji coba sensor palang pintu akan dipaparkan oleh BPPT pada 8 November mendatang. Dalam paparan, akan dijelaskan detail teknologi tersebut lengkap dengan cara kerjanya. Menurut Totok, sapaan akrabnya, kedepan sensor otomatis tersebut akan mengarah pada penggunaan palang pintu otomatis. Keuntungannya, tidak membutuhkan petugas yang mengoperasionalkan buka tutup palang pintu. “Namun untuk kesana, diperlukan berbagai pencermatan dan evaluasi. Artinya ketika uji coba berhasil pun kami tidak akan langsung melepas. Nanti akan ada evaluasi – evaluasi bertahap dengan jangka waktu yang tidak sebentar untuk memastikan kinerja alat ini optimal. Karena ini berkaitan dengan keselamatan masyarakat,” jelasnya.
Ketika sudah benar-benar terpasang dan berfungsi sempurna, bukan tidak mungkin Pemkot akan menerapkan sensor palang pintu di semua perlintasan sebidang. “Tapi sekali lagi itu tergantung kebijakan dari Pemda. Karena ini hanya uji coba, namun untuk selanjutnya tergantung apakah Pemda mampu dan berkeinginan untuk menerapkannya secara keseluruhan,” tambahnya.
Pihak Pemkot Pekalongabn, lanjutnya, juga sudah memberi masukan sejak awal agar sensor harus bisa mengantisipasi perbedaan kecepatan kereta. Artinya, alat sensor harus bisa menghitung dan membedakan kecepatan kereta yang datang. Kereta dengan kecepatan tinggi, akan lebih cepat sampai ke perlintasan sebidang, sedangkan kereta kecepatan rendah akan lebih lama.
“Disini harus tepat perhitungannya. Ketika kereta dengan kecepatan tinggi, berarti jarak berapa kilo harus ditutup begitu juga jika kereta kecepatan rendah. Karena ada perbedaan dimana ada beberapa kereta yang berhenti dan tidak berhenti di stasiun. Sehingga kecepatannya pun berbeda,” paparnya. Penerapan sensor palang pintu otomatis, dikatakan Totok, juga berkaitan dengan rencana Pemerintah Pusat untuk mengoperasikan kereta cepat Jakarta-Surabaya. Sehingga kedepan palang pintu tidak perlu lagi dijaga. Seluruhnya akan bekerja otomatis seperti robot, sehingga dapat mengurangi jumlah SDM yang ditempatkan di pos palang pintu. (nul)
(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 08-11-2017)
PRINT +
DOWNLOAD PDF