Pelaku Industri Kreatif Harus Inovatif dan Memanfaatkan Teknologi Informasi, Bekraf Sosialisasikan A

KOTA PEKALONGAN – Pelaku usaha industri kreatif di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah dan Pekalongan pada khususnya, jumlahnya sangat banyak dan sudah menghasilkan berbagai produk kreatif yang berkualitas. Hanya saja, pelaku usaha kreatif ini masih menghadapi berbagai persoalan. Terutama masalah permodalan dan cara menjual. Persoalan ini muncul, lantaran pelaku industri kreatif masih menggunakan cara-cara konvensional dalam memasarkan produksinya. Mereka belum inovatif maupun belum memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dengan baik.

 

Hal inilah yang menjadi salah satu sorotan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, saat membuka acara seminar industri kreatif “BISMA Goes To Bigger Member” dan sosialisasi Aplikasi BISMA yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), bekerja sama dengan Pemkot Pekalongan dan Pemprov Jawa Tengah di Ballroom Hotel Sahid Mandarin Kota Pekalongan, Jumat (15/9). “Ada banyak sebenarnya mereka yang sudah bisa membuat, tapi rata-rata, mereka bertanya ke saya tentang dua hal, permodalan dan cara menjual. Maka perlu kita bantu dan kita kasih advokasi. Misal permodalan, untuk industri kecil maupun starup bisa ke Bank Jateng, karena lebih murah daripada dia meminjam ke lembaga keuangan lain yang bunganya lebih tinggi,” ungkap Ganjar.

 

Ganjar juga mengingatkan akan pentingnya quality control dari sebuah produk, agar punya produk berkualitas bagus dan layak jual. Sementara, ketika sudah bisa menjual atau memasarkan, muncul persoalan kalau pemasarannya tidak berkembang. Sebabnya, lantaran mereka menjualnya masih menggunakan cara-cara konvensional.

 

Padahal yang bersangkutan bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitas aplikasi di banyak tempat, termasuk dari Bekraf. Ketika sudah bisa menjual dengan cara seperti itu, tinggal menggencarkan promo. “Tipa hari dia mesti menyampaikan. Promo yang paling gampang, mau pakai aplikasi Bekraf, aplikasi Pemprov, atau medsos. Padahal menggunakan medsos kan gratis. Saya pun sering membantu mereka, ikut mempromosikan produknya, saya kasih testimoni juga,” terang Ganjar.

 

Tak kalah penting, imbuh Ganjar, berkaitan dengan pasckaging sebuah produk. Packaging atau kemasan harus bagus. “Nanti industri packaging juga maju. Tidak cukup sampai di situ. Ditambah tulisan cerita. Misal batik, batik ini dikasih tulisan motifnya apa, cerita tentang apa, bahannya apa. Sesuatu yang menarik yang dituliskan dalam satu dua kalimat. Jadi ada nilai tambah. Kalau packaging-nya bagus, dijual di tempat yang bagus, maka akan dibeli dengan harga bagus. Ini penting, kalau tidak, kita akan kalah. Seringkali produk kita hebat-hebat tapi nggak kejual,” bebernya.

 

Maka dari itu, kita mesti membantu mereka. Dan saya senang, Bekraf hadir di sini karena Bekraf memotret lebih lengkap. Bagaimana situasi eksternal pasar, cara menjual, dan apa-apa yang harus diperbaiki dari industri kreatif kita,” imbuh Ganjar.

 

 

 

Aplikasi BISMA

 

Pada acara yang diikuti 500 orang lebih perwakilan para pelaku industri kreatif di Jawa Tengah itu, Bekraf mensosialisasikan BISMA (Bekraf information System on Mobile Aplication), sebuah aplikasi informasi kreatif untuk memajukan Usaha Kreatif di Indonesia. Sosialisasi dilakukan, mengingat para pelaku 16 subsektor industri kreatif, juga seluruh stakeholder ekonomi kreatif, perlu mendapatkan informasi lebih mendetail mengenai prosedur dan benefit yang dapat diperoleh dari BISMA. Juga dalam hal membangun jejaring.

 

Sehubungan dengan hal tersebut, diselenggaraakanlah kegiatan sosialisasi BISMA langsung kepada para pelaku, sekaligus memberi ruang bagi para pelaku untuk bertemu dan berjejaring. Kegiatan sosialisasi ini sengaja dilaksanakan di Pekalongan yang sarat dengan industri kreatif yang terus berkembang pesat. Hal inilah yang antara lain menjadi alasan diselenggarakannya BISMA di Pekalongan,” ungkap Deputi 1 Riset Edukasi dan Pengembangan Bekraf Dr Ing Abdur Rohim Boy Berawi.

 

Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, didampingi Plt Walikota Pekalongan HM Saelany Machfudz, Deputi 1 Riset Edukasi dan Pengembangan Bekraf Dr Ing Abdur Rohim Boy Berawi, Deputi 2 Akses Permodalan Bekraf Fajar Hutomo, dan beberapa deputi lain. Boy Berawi menambahkan, yang punya unit usaha agar bisa didaftarkan di database BISMA.”Database ini menjadi acuan untuk melihat pemetaan pelaku di darah-daerah dan untuk perumusan program dan kegiatan yang akan dilakukan Bekraf,” imbuh dia.

 

Sementara, Deputi Akses Permodalan Bekraf Fajar Hutomo menambahkan bahwa BISMA merupakan semacam agregator data dari semua program kedeputian di Bekraf. Misal berkaitan dengan akses permodalan. “Tentunya saya berharap akses permodalan yang kita berikan ke UKM berjalan efektif, berhasil guna dan tepat sasaran. Kita ingin meyakinkan bahwa yang kita bantu akses permodalannya adalah ukm-ukm yang sudah dilengkapi dengan bimbingan dan bantuan teknis dari masing-masing kedeputian,” tuturnya.

 

Dalam sosialisasi ini, Bekraf bekerja sama dengan Pemkot Pekalongan dan Pemprov Jawa Tengah dengan menghadirkan perwakilan dari 6 kedeputian di Bekraf untuk menjelaskan kegiatan pengembangan kdeputian. Selain itu acara ini diisi oleh para pembicara yang merupakan para pelaku ekonomi kreatif yang telah memiliki reputasi dalam bidangnya masing-masing. Mereka antaraa lain Fiki Satari (BCCF), Andrian Ishak (Namaaz Dining), Dwi Purnomo (Fruits Up), Ujang Koswara (Limar), Yanyan Sunarya (ITB), Galih Sedayu (AFN), Firsman Marpaung (Digital) marketing), dan M Ihsan (PP Lingkungan dan Budaya ITB).

 

Kegiatan ini dilakukan dengan metode yang bersifat eksperiental, atau memberikan experience nyata bagi para creaticepreneurs yang hadir untuk dapat langsung rekoneksi dan berjejaring,” jelas Ketua Panitia, Slamet Aji Pamungkas. “Para pesertanya nanti akan diarahkan untuk terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan, sehingga mereka akan termotivasi untuk bergabung dalam BISMA,” imbuh dia.

 

Para pembicara dalam sesi awal menjelaskan mengenai program-program pengembangan enam kedeputian di Bekraf yaitu Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan, Deputi Askes Permodalan, Deputi Infrastruktur, Deputi Pemasaran, Deputi Fasilitasi Hak kekayaan Intelektual dan Regulasi, serta Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah.

 

Dilanjutkan dengan sesi panel dari para pelaku yang telah sukses mengembangkan ekonomi kreatif. Diskusi panel dilanjutkan dengan sesi pararel di kelas-kelas terpisah dengan para narasumber. (way)

 

 

 

(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 15-09-2017)