Kota Pekalongan – Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpus) melaunching buku tentang asal-usul nama Kelurahan di Kota Pekalongan, Senin (11/12) digedung Diklat. Launching buku ditandai dengan pembukaan tirai buku oleh Staf ahli Walikota Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Sutarno didampingi Kepala Dinarpus Kota Pekalongan Erly Nufianti.

 

Erly Nufianti menuturkan bahwa Launching buku asal usul nama Kelurahan tersebut sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan sejarah lisan dan kearifan lokal yang menceritakan tentang kisah asal-usul nama-nama kelurahan di Kota Pekalongan. “ Generasi muda sekarang banyak yang tidak tahu akan sejarah nama kelurahannya masing-masing. Dengan buku inilah masyarakat dapat mengetahui kisah asal-usul nama kelurahan di Kota Pekalongan,” terangnya.

 

Erly Nufanti melanjutkan, penulisan buku asal-usul nama-nama kelurahan itu berdasarkan hasil penelusuran tim penyusun yang disusun dari lomba penulisan asal-usul nama kelurahan pada tahun 2016 lalu. “ Termasuk wawancara dengan beberapa narasumber dan tokoh masyarakat setempat yang dianggap mempunyai data dan informasi yang memadai,” tuturnya.

 

Ditambahkan Erly Asal-usul nama Kelurahan yang ditulis pada buku tersebut adalah nama kelurahan sebelum terbitnya peraturan Daerah Kota Pekalongan Nomor 8 Tahun 2013 tentang Penggabungan Kelurahan di Lingkungan Pemerintah Kota Pekalongan. Menurut Erly dari 47 Kelurahan yang ada di Kota Pekalongan baru 21 nama Kelurahan yang dapat ditulis pada buku tersebut. “  Memang belum bisa kami bukukan semua nama-nama kelurahan karena keterbatasan data dan informasi yang kami himpun. Dan pada tahun 2018 nanti kami berencana semua asal-usul nama Kelurahan yang belum akan kami bukukan juga  “ tambahnya. 21 asal usul nama kelurahan itu adalah Kelurahan panjang, Panjang Wetan, Kandang Panjang, Panjang Baru, Bandengan, Krapak, Krapyak Lor, Krapyak Kidul, Sugih Waras, Sampangan, Kauman, Keputran, Poncol, Dekoro, Landungsari, Noyontaan, Kebulen, Podosugih, Pringlangu, Bumirejo dan Pasir Sari.

 

Sementara itu staf ahli Walikota Pekalongan bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Sutarno menambahkan bahwa Kelurahan adalah sebagai tempat berkumpulnya kelompok masyarakat tentu memiliki cerita yang panjang dan nilai-nilai kearifan local ketika masyarakat tinggal dan berinteraksi. Bahkan ketika para tokoh memberi nama pasti telah dipikirkan secara mendalam dan sungguh-sungguh agar nama tersebut dapat terwujud sesuai dengan harapan dan cita-cita. “ Generasi muda harus tahu akan sejarah nama kelurahannya sehingga anak-anak memliki kembali crita luhur tentang sejarah para pendahulu yang sarat akan nilai-nilai keraifan dan kebijaksanaan dan bangga pada daerahnya masing-masing “ harapnya.

 

Humas Kota Pekalongan/Liminho