KOTA PEKALONGAN – Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Kota Pekalongan, melakukan kerjasama dengan Direktorat Pengabdian Masyarakat Universitas Gajah Mada (UGM) untuk melakukan kajian pembenahan pengelolaan pasar rakyat di Kota Pekalongan. Ada dua kajian yang dikerjasamakan yakni terkait manajemen pengelolaan pasar rakyat, dan pemanfaatan lantai II dan III Pasar Banjarsari.

 

Kepala Dindagkop dan UMKM Kota Pekalongan, Zaenul Hakim mengatakan, kerjasama tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mencari solusi terkait manajemen, dan tata kelola pasar rakyat. “Kerjasama sudah disepakati dalam bentuk MoU dan sudah ditandatangani pada 25 Agustus lalu di UGM langsung oleh Walikota Pekalongan,” terang Zaenul, Jumat (31/8).

 

Dengan kerjasama itu, ia berharap ada kajian terkait solusi untuk pengelolaan pasar rakyat. Bagaimana sebaiknya kelembagaan pasar rakyat agar kedepan lebih bermanfaat, berdayaguna dan berhasil guna. Terkait pengelolaan pasar rakyat, Zaenul Hakim menjelaskan bahwa saat ini pasar rakyat dikelola langsung di bawah bidang pasar dan PK5 yang harus mengurus 11 pasar rakyat.

 

Sebelumnya masih ada UPTD, sehingga aksesnya tidak terlalu panjang. Bahkan sebelumnya pengelolaan pasar ditangani oleh dinas pasar. Tapi saat ini tidak ada UPTD, sehingga melompat terlalu panjang. Di pasar hanya ada yang dituakan. Sehingga kami berharap hasil kajian bisa memberikan masukan yang baik,” tuturnya.

 

Sementara kajian kedua yakni tentang pengelolaan lantai II dan III Pasar banjarsari. Zaenul mengatakan, kondisi lantai II dan III Pasar Banjarsari saat ini banyak dikeluhkan. Sehingga dibutuhkan kajian dari berbagai aspek mulai dari aspek teknis, tata ruang, arsitektur, bangunan, aspek lingkungan, sosial, ekonomi hingga psikologis. “Jadi nanti bisa dikaji, bagaimana dua lantai tersebut bisa diotimalkan. Kondisi saat ini di dua lantai itu ada kios pedagang, namun seringkali pedagang turun kalau sudah siang hari. Sehingga membuat lantai II dan III menjadi sepi. Sebenarnya sudah seringkali kami jelaskan, kami ingatkan agar tidak berjualan di bawah tapi bagaimana lagi karena pedagang tetap berjualan di bawah, di luar pasar,” ujarnya.

 

Sehingga ia ingin dengan kajian akademis. Harapannya ada solusi atau masukan yang dapat diterapkan. Sehingga diharapkan lantai II dan lantai III serta Pasar banjarsari dapat berkembang lebih baik lagi, seperti Pasar Sentiling dulu yang menjadi pasar induk di Kota Pekalongan. “Mungkin perlu penyesuaian struktur bangunan atau penyesuaian lain. Kajian tersebut nantinya akan menjadi acuan kami dalam mengambil kebijakan,” tandasnya. (nul)

 

 

 

(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 02-09-2017)